Sabtu, 30 Maret 2013


http://klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/03/30/170106/540x270/tiru-jejak-esemka-smkn-2-karanganyar-buat-sepeda-motor-listrik.jpg
Sepeda motor listrik. ©2013 Merdeka.com/arie sunaryo
Kiprah SMKN 2 dan SMK Warga Surakarta yang berhasil menciptakan mobil Esemka menginspirasi siswa SMKN 2 Karanganyar, Jawa Tengah. Mereka ingin meniru kesuksesan mobil Esemka dengan menciptakan sepeda motor mini bertenaga listrik.

Saat merdeka.com berkunjung ke laboratorium SMKN 2 Karanganyar, Kamis (28/3) lalu, karya siswa lereng Gunung Lawu ini cukup membanggakan. Selain tidak memerlukan minyak sebagai bahan bakar, sepeda motor mini ini ramah lingkungan karena tak menghasilkan emisi.

Sepintas, sepeda motor ini tak jauh berbeda dengan sepeda biasa. Produk ini memiliki lampu khas sepeda, pedal kayuh, serta sadel dan boncengan. Jika tidak ingin capai mengayuh, pengendara dapat menarik tuas gas dan sepeda akan meluncur mulus dengan kecepatan maksimum 30 Km/jam.

"Ide membuat sepeda motor ini awalnya dari para siswa dibantu guru pembimbing selama empat bulan. Menyikapi melambungnya harga minyak dunia dan mahalnya BBM. Kemudian muncul ide bagaimana menciptakan alat transportasi yang mudah dan murah. Terus kami bikin sepeda listrik ini," ujar salah seorang guru pembimbing SMKN 2 Surakarta, Hananto.

Menurut Hananto, listrik dihasilkan dari tiga buah aki yang masing-masing berdaya 12 watt. Motor penggerak menggunakan kumparan yang ditanamkan pada velg roda belakang. Sedangkan untuk mengisi ulang daya listrik, cukup menghubungkan charger yang berada di bawah sadel dengan sumber listrik terdekat. Listrik sebenarnya juga akan terisi secara otomatis saat sepeda dikayuh.

"Pengisian aki minimal satu jam, namun semakin lama akan semakin baik. Dengan mengisi daya selama kurang lebih enam jam, sepeda akan mampu berjalan sejauh 25 kilometer dengan kecepatan maksimal 25 Km/jam," terang Hananto.

Hananto menerangkan, tidak ada kendala yang berarti saat proses pembuatan sepeda itu. Beberapa onderdil dan bahan bodi diambil dari sepeda bekas yang direkondisi dan sebagian dibeli di pasar loak Solo. Kesulitan hanya ditemui saat membuat potensio, alat yang berfungsi untuk mengatur kecepatan pada saat sepeda melaju.

"Semua kesulitan bisa teratasi saat kami berhasil membuat rangkaian yang kami tanamkan di potensio. Jadi, sepeda ini tidak hanya sekadar jalan dan berhenti, tapi bisa diatur kecepatannya," jelas Hananto.

Sementara itu Kepala Sekolah SMKN 2 Karanganyar, Wahyu Widodo mengatakan, apabila lulus uji, sepeda motor listrik karya siswanya ini akan diproduksi secara massal.

"Rencananya kami akan bekerja sama dengan pihak-pihak yang nantinya akan membantu riset serta suplai bahan baku. Jika diproduksi, satu unit nantinya akan kami beri harga sebesar Rp 3,5 juta hingga Rp 4 juta," pungkas Wahyu.[ded]

0 komentar:

Posting Komentar

Blogger news

Blogroll

About