| Spanduk Sekolah Ramah Anak yang terpasang di ajang CFD Solo |
Solo – SD Islam Terpadu (IT) Nur
Hidayah Solo mencanangkan diri sebagai Sekolah Ramah Anak (SRA). Hal itu
diwujudkan dengan berbagai indikator pendukung, seperti program
ektrakurikuler, pembinaan tenaga pendidik (guru) terkait pembelajaran,
sarana bermain, minat bakat dan berbagai indikator pendukung lainnya.
Demikian disampaikan Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang Humas, Rahmat
Hariyadi SPd dalam acara pentas seni di Gor Manahan Solo.
Rahmat mengatakan, saat ini SDIT Nur
Hidayah telah memiliki sebanyak 20 program ektrakurikuler, antara lain
komputer, bahasa inggris, bahasa arab, jurnalistik, melukis, pemilihan
da’i cilik (pildacil), rebbana, kiroah, tenis meja, tapak suci, wushu
(olahraga china), robotik, nasyid dan ektrakurikuler lainnya. Selain
itu, sebelum masuk ke ruang kelas siswa selalu dibiasakan bersalaman
(berjabat tangan) dengan guru piket di pagi hari.
Untuk mencapai sekolah ramah anak ini,
lanjutnya juga tidak lepas dari kelengkapan sarana prasara (sarpras)
fisik di sekolah. Saat ini, SDIT Nur Hidayah telah memiliki sebanyak 45
fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) bagi siswanya. Untuk sistem
pembelajaran, lanjut Rahmat semua guru diharuskan memiliki kemampuan
mengajar menyenangkan, yakni menggunakan sistem Pembelajaran Aktif,
Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM).
Hal itu dilakukan agar Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) siswa tidak merasa bosen. Sehingga, dengan begitu
pelajaran yang diajarkan dapat diterima dengan mudah oleh siswa. Ia
mengatakan, untuk kelas satu dan dua menggunakan sistem pembelajaran thematic teaching, opening thematic dan diakhir pembelajaran selalu diadakan kegiatan di luar kelas (outing class).
Ia mengaku optimis dengan berbagai
indikator pendukung itu, SDIT Nur Hidayah dapat menjadi percontohan
sekolah ramah anak di Kota Solo. “Upaya itu sudah kita pikirkan dan
sudah menjadi komitmen kita untuk mewujudkan sekolah ramah anak. Karena
visi kita adalah menciptakan siswa yang berkarakter, berprestasi dan
gemilang,” ungkapnya.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPRD
Kota Solo, Paulus Haryoto, mengatakan indikator pendukung sekolah ramah
anak ini adalah setiap sekolah harus memiliki sarana bermain yang
memadai, disamping itu juga guru yang mengajar harus memiliki
keterampilan (skill) yang dapat menciptakan anak senang untuk menerima
setiap pelajaran yang diajarkan. “Jadi guru itu juga harus dapat
memahami kondisi kejiwaan masing-masing siswanya,” ungkap Paulus saat
ditemui di Rumah Dinas Walikota Solo Loji Gandrung usai menghadiri
deklarasi pemenangan Ganjar-Heru di Stadion Manahan, Minggu (14/4).
Disinggung kesiapan Solo dalam
mewujudkan sekolah ramah anak ini, Paulus mengaku optimis bahwa Solo
selalu siap jika ditunjuk sebagai Kota Sekolah Ramah Anak.
“Sangat-sangat siap jika Solo ditunjuk sebagai kota sekolah ramah anak,
soalnya kita mulai dari sekarang sudah melakukan pembinaan terhadap
semua guru untuk menyongsong Solo Kota Layak Anak (KLA) pada Tahun 2016
mendatang,” tandasnya.


0 komentar:
Posting Komentar